Menjadi Guru yang Terus Bertumbuh
“Saya mungkin belum menjadi guru yang sempurna, tetapi saya ingin terus belajar menjadi guru yang lebih baik dan bertumbuh bersama peserta didik.”

Menjadi Guru yang Terus Bertumbuh
Menjadi guru bukan tentang sudah mengetahui segalanya, melainkan tentang kesediaan untuk terus belajar, memperbaiki diri, dan bertumbuh bersama peserta didik.
Perjalanan saya menjadi seorang guru merupakan proses yang masih terus berlangsung. Dalam perjalanan ini, saya belajar bahwa mengajar bukan sekadar menyampaikan materi atau memastikan peserta didik mampu menjawab pertanyaan dengan benar. Lebih dari itu, mengajar adalah tentang memahami manusia, mengenali potensi, menghargai perbedaan, dan menciptakan ruang bagi setiap peserta didik untuk berkembang.
Keputusan saya mengikuti Pendidikan Profesi Guru (PPG) menjadi salah satu langkah penting dalam perjalanan tersebut. Saya ingin menjadi guru Kuliner yang tidak hanya menguasai pengetahuan dan keterampilan di bidangnya, tetapi juga mampu merancang pembelajaran yang bermakna, memahami kebutuhan peserta didik, serta mendampingi mereka dalam membangun karakter dan kepercayaan diri.
Belajar dari ruang kelas dan laboratorium Kuliner
Pengalaman mengajar memberikan banyak pelajaran yang tidak selalu saya temukan dalam buku. Saya mulai memahami bahwa setiap peserta didik memiliki karakter, kemampuan, minat, dan cara belajar yang berbeda. Ada yang berani menyampaikan pendapat ketika berdiskusi, ada yang lebih percaya diri saat praktik, dan ada pula yang membutuhkan waktu serta pendampingan sebelum berani menunjukkan kemampuannya.
Hal tersebut mengingatkan saya bahwa keberhasilan pembelajaran tidak cukup dilihat dari nilai akhir atau hasil praktik semata. Saya juga perlu memperhatikan proses, usaha, keberanian mencoba, kemampuan bekerja sama, dan perkembangan setiap peserta didik.
Sebagai calon guru Kuliner, saya menemukan bahwa pembelajaran menjadi lebih bermakna ketika peserta didik tidak hanya mendengarkan penjelasan, tetapi juga terlibat langsung melalui demonstrasi, diskusi, praktik, pemecahan masalah, dan refleksi. Dari proses tersebut, saya belajar untuk tidak selalu menempatkan diri sebagai satu-satunya sumber pengetahuan, melainkan sebagai pendamping yang membantu peserta didik menemukan dan mengembangkan kemampuannya.
Belajar dari hal-hal yang belum sempurna
Saya menyadari bahwa perjalanan menjadi guru tidak selalu berjalan sesuai harapan. Ada pembelajaran yang berlangsung dengan baik, tetapi ada pula hal-hal yang perlu dievaluasi. Terkadang, strategi yang saya rancang belum sepenuhnya menjawab kebutuhan peserta didik. Ada instruksi yang perlu diperjelas, pengelolaan waktu yang perlu diperbaiki, atau asesmen yang perlu dikembangkan agar dapat memberikan gambaran yang lebih utuh tentang perkembangan mereka.
Dahulu, mungkin saya lebih berfokus pada apakah pembelajaran sudah terlaksana sesuai rencana. Namun, melalui proses belajar dan refleksi, saya mulai memahami pentingnya bertanya kembali kepada diri sendiri: Apakah peserta didik benar-benar memahami materi? Apakah mereka mendapatkan kesempatan untuk terlibat? Apakah pembelajaran yang saya lakukan sudah membantu mereka berkembang?
Bagi saya, mengakui kekurangan bukan berarti gagal menjadi guru. Justru, keberanian untuk menyadari kekurangan merupakan awal dari perubahan. Saya ingin belajar menerima masukan, mengevaluasi praktik pembelajaran, dan menjadikan setiap pengalaman sebagai bekal untuk melakukan perbaikan.
Menjadi guru yang memberi ruang untuk bertumbuh
Saya percaya bahwa setiap peserta didik memiliki potensi untuk berkembang, meskipun kecepatan dan cara mereka belajar tidak selalu sama. Karena itu, saya ingin menciptakan pembelajaran yang memberikan ruang bagi mereka untuk bertanya, mencoba, melakukan kesalahan, memperbaiki hasil, dan menyampaikan pendapat tanpa merasa takut dihakimi.
Dalam pembelajaran Kuliner, saya ingin peserta didik tidak hanya terampil mengolah makanan, memahami teknik memasak, atau menghasilkan hidangan yang baik. Saya juga ingin mereka belajar tentang kedisiplinan, tanggung jawab, kerja sama, kreativitas, kebersihan, keselamatan kerja, dan sikap profesional yang dibutuhkan di dunia kerja.
Saya ingin menjadi guru yang tidak hanya hadir ketika peserta didik berhasil, tetapi juga bersedia mendampingi ketika mereka mengalami kesulitan. Sebab, terkadang yang dibutuhkan peserta didik bukan hanya jawaban yang benar, melainkan kesempatan untuk mencoba kembali dan seseorang yang percaya bahwa mereka mampu berkembang.
Perjalanan ini masih panjang
Kurang dari satu tahun menjalani perjalanan ini membuat saya semakin memahami bahwa menjadi guru adalah proses belajar sepanjang hayat. Masih banyak hal yang perlu saya pelajari, mulai dari mengembangkan strategi pembelajaran, menerapkan asesmen yang adil dan bermakna, memanfaatkan teknologi, hingga memahami kebutuhan peserta didik yang semakin beragam.
Saya tidak ingin menjadi guru yang merasa telah selesai belajar setelah menyelesaikan pendidikan profesi. Sebaliknya, saya ingin menjadikan pengalaman, tantangan, masukan, dan refleksi sebagai bagian dari perjalanan profesional saya.
Saya mungkin belum menjadi guru yang sempurna, tetapi saya ingin terus menjadi guru yang mau belajar. Saya ingin bertumbuh dalam cara berpikir, cara mengajar, cara memahami peserta didik, dan cara memaknai pendidikan.
Pada akhirnya, bagi saya, menjadi guru yang terus bertumbuh berarti bersedia memperbaiki diri tanpa berhenti menghargai proses. Sebab, ketika saya terus belajar menjadi guru yang lebih baik, saya berharap dapat ikut membuka lebih banyak kesempatan bagi peserta didik untuk tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri, mandiri, terampil, dan siap menghadapi masa depan.
Saya sedang bertumbuh menjadi guru, dan dalam proses itu, saya berharap dapat bertumbuh bersama setiap peserta didik yang saya temui.
Tanggapan (0)
Belum ada tanggapan. Jadilah yang pertama menulis.